Lebak,- Cilegonselatan com,- Proyek perbaikan saluran irigasi di wilayah Kp. Cikeusik Rt. 004 Rw. 002 Desa Malingping Selatan Kecamatan Malingping Kabupaten Lebak Provinsi Banten kini menuai kontroversi. Berdasarkan pantauan di lapangan, material utama yang digunakan untuk konstruksi dinding saluran ternyata menggunakan Herbel (bata ringan/bata putih) jenis yang diduga tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), memicu kekhawatiran akan ketahanan infrastruktur jangka panjang.
Kondisi Lapangan
Dokumentasi lapangan menunjukkan proses pengerjaan saluran irigasi yang menggunakan bata berwarna putih sebagai pengganti bata merah konvensional atau beton bertulang penuh. Material ini terlihat dipasang pada dinding saluran pembawa air.
Penggunaan bata putih (Autoclaved Aerated Concrete/AAC) sebenarnya diperbolehkan dalam konstruksi sipil tertentu karena bobotnya yang ringan. Namun, kritikus konstruksi dan pengawas proyek independen menilai bahwa spesifikasi bata yang digunakan di lokasi ini tampak mencurigakan.
“Secara visual, tekstur dan kepadatan bata putih yang digunakan di saluran irigasi ini berbeda dengan Herbel berstandar SNI yang biasa beredar di pasaran,” ujar seorang ahli struktur sipil yang enggan disebutkan namanya saat dimintai konfirmasi, Jumat (12/06/26).
Mengapa Bata Putih Non-SNI Berbahaya?
Saluran irigasi adalah infrastruktur vital yang menahan beban hidrostatis (tekanan air) dan beban tanah lateral secara terus-menerus. Bata putih yang tidak lolos uji SNI biasanya memiliki masalah pada:
1. Kuat Tekan Rendah: Tidak mampu menahan tekanan air dan tanah, berisiko retak atau ambruk.
2. Daya Serap Air Tinggi: Bata putih non-standar cenderung menyerap air lebih banyak, yang dapat mempercepat degradasi material dan mengurangi umur pakai saluran.
3. Ketidakseragaman Ukuran: Menyulitkan pemasangan plesteran dan acian yang rapat, sehingga rawan bocor.
Dampak bagi Petani
Jika material yang digunakan memang di bawah standar, risiko terbesar adalah kegagalan struktur di musim hujan atau saat debit air tinggi. Kerusakan dini pada saluran irigasi berarti terganggunya distribusi air ke sawah petani, yang berpotensi menurunkan produktivitas panen.
Pemerintah daerah setempat melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) diharapkan segera melakukan uji laboratorium terhadap sampel bata yang digunakan. Transparansi mengenai spesifikasi material dan kontraktor pelaksana menjadi kunci untuk memastikan anggaran perbaikan irigasi tidak terbuang sia-sia akibat penggunaan material substandar.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pelaksana proyek belum memberikan klarifikasi resmi terkait asal-usul dan sertifikasi material bata putih tersebut.
Red

















Leave a Reply